Menjadi beken, siapa yang tidak mau? Mungkin di antara seribu orang hanya ada satu yang tidak mau beken. Oh ya, beken maksud saya sama dengan maksud Anda, yaitu terkenal, menajadi populer. Menjadi beken bisa ditempuh dalam proses yang lama dan panjang, bisa juga dengan cara instant. Tampaknya sistem birokrasi yang menganut azas “kalau bisa diperlambat mengapa harus dipercepat” kalah dengan slogan salah satu kandidat yang kalah dalam pilpres kemarin “lebih cepat lebih baik“, sehingga untuk menjadi beken pun orang banyak memilih cara cepat. Lihat saja setiap ada audisi untuk acara televisi yang misa mendongkrak popularitas seketika selalu dibanjiri peminat. Semua pengen beken, lebih cepat lebih baik.
Tetapi sesungguhnya dengan jalan apapun tidak ada yang mudah untuk menjadi beken jika tidak didukung oleh kapabilitas yang memadai. Ikut ajang idola-idolaan di televisi pun harus didukung oleh kemampuan-kemampuan tertentu. Jika tidak, lewat sajalah kau. Tetapi, selalu berlaku hukum kompensasi. Ketika semua arus menuju ke arah tertentu, maka ada arus yang dibutuhkan untuk mengisi kekosongan tempat yang ditinggalkan. Jika menjadi beken dalam pengertian positif itu susah, maka ada cara yang mudah yaitu menjadi beken dengan cara negatif. Cara negatif ini ibaratnya adalah arus balik dari teori kompensasi tersebut.
Kalau tidak bisa beken dengan menjadi orang baik, jadilah orang jahat pasti beken. Kalau tidak bisa menjadi finalis pada ajang Indonesian Idol, jadilah teroris pasti beken. Tapi ingat, semua ada konsekuensinya. Sama halnya ketika Anda ingin kaya dengan cara halal tidak bisa, Anda pun bisa mengambil cara haram, korupsi atau pelihara tuyul misalnya. Anda tahu kan konsekuensinya?
Nah, masih bermimpi pengen jadi orang beken? Kalo saya nggak deh. Lebih baik camkan slogan yang lagi ramai di alam maya ini stop dreaming start action dari Joko Susilo. Jangan terlalu banyak bermimpi jadi orang beken, tapi mulailah berbuat sesuatu yang mengantarkan Anda untuk menjadi beken.